Sun. Nov 1st, 2020

Jangan Takut DBD, Ini Vaksinnya

Awal tahun 2019 ini Indonesia dihebohkan oleh penyakit fenomenal musiman yang dikenal sebagai Demam berdarah (Dengue) atau biasa ngetrend sebagai DBD. Beberapa fasilitas kesehatan di Indonesia banyak dihuni oleh penderita DBD ini, bersamaan dengan intensitas hujan yang cukup tinggi.

Dilansir dari laman lifestyle Kompas.com, hingga akhir Januari 2019 data Kemenkes RI, sebanyak 13.683 kasus DBD se-Indonesia dan 133 diantaranya meninggal dunia. Berikut adalah beberapa provinsi terbanyak terjadinya kasus demam berdarah dengue ini.

  1. Jawa Timur 2.657 kasus DBD dengan 47 korban meninggal.
  2. Jawa Barat 2.008 kasus dengan 11 orang meninggal.
  3. NTT 1.169 kasus dengan 16 orang meninggal.
  4. Jawa Tengah 1.027 kasus dengan 9 orang meninggal
  5. Sulawesi Utara 980 kasus dengan 9 orang meninggal

Sedangkan di Lampung ada 827 kasus, dan DKI Jakarta 613 kasus. Hal ini menunjukkan bahwa siapapun dan dimanapun rentan tertular DBD. Baik tua muda, kaya raya, miskin atau bodoh. Infeksi tidak memperdulikan itu. Dan seperti pepatah kuno berbicara, Mencegah lebih baik dari pada mengobati.

Belum ada pencegahan yang benar-benar efektif terhadap demam berdarah kecuali menghindari faktor resikonya. Menjalankan program 3M (Menguras, Menutup dan Mengubur), abatisasi, fogging itu yang sudah kita lakukan. Tapi itu hanya akan membunuh nyamuk (sebagai inang, agen penular virusnya, virus aslinya tidak akan pernah bisa-bisa punah)

Kabar gembira, Sanofi pasterur sebuah perusahaan farmasi besar di Perancis, telah menghasilkan vaksin demam berdarah dan sekarang tersedia di Brazil, Filipina dan Meksiko.

Apakah semua orang bisa di vaksin? Ini hanya digunakan untuk orang-orang yang tinggal di daerah endemik DBD. Artinya kasus ini menjadi wabah unik di suatu lokasi geografis tertentu. Sayangnya vaksin ini tidak bisa digunakan oleh wisatawan (pelancong) yang hendak bepergian ke tempat yang endemik DBD.

 

 

Demam berdarah merupakan penyakit yang disebabkan virus DENV (Dengue virus) dan ditularkan oleh nyamuk Aedes aegypti. Nyamuk ini juga dapat menyebabkan penyakit demam kuning, chikungunya, dan demam Zika. Penularan terjadi melalui gigitan nyamuk yang terinfeksi. Manusia adalah inang utama dan sumber utama nyamuk betina. Nyamuk menjadi terinfeksi ketika menggigit seseorang dengan virus dengue dalam darahnya. Itu tidak dapat disebarkan langsung dari satu orang ke orang lain. Jadi harus ada perantara nyamuk sebagai pembawa virusnya.

Sebenarnya tidak ada vaksin terhadap DENV yang mendapat lisensi resmi untuk dipergunakan. Namun vaksin rekombinan dari – virus demam kuning (Chimeric yellow fever) dan vaksin DENV tetravalen (CYD-TDV) – telah menunjukkan kemanjuran terhadap dengue dalam dua uji klinis baru-baru ini. CYD-TDV adalah vaksin dengue pertama dikembangkan oleh Sanofi Pasteur, diberikan sebagai 3-dosis serial pada jadwal 0/6/12 bulan.


Jadi kapan vaksin ini bisa digunakan di Indonesia?


Referensi:

ncbi.nlm.nih.gov/pubmed/26639777
who.int/immunization/research/development/dengue_q_and_a/en/
atousante.com/en/dengue-fever-vaccine-is-now-available-in-3-countries/
lifestyle.kompas.com/read/2019/02/01/194933120/infografik-angka-kasus-dan-kematian-akibat-dbd-pada-januari-2019

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *