Mon. Aug 10th, 2020

3 Skenario Bagaimana Kiamat Menghancurkan Semesta

Semua yang ada permulaan pasti ada akhirnya, dan itu adalah hukum alam yang seharusnya dipatuhi alam semesta.

Kita bisa memperkirakan kapan alam semesta ini muncul dari sisa-sisa partikel alam semesta yang merupakan saksi terbentuknya Universe. Pesawat antariksa ESA’s Planck Spacecraft telah memetakan angkasa alam semesta dengan radiasi latar-belakang (cosmic micro-wave background), sehingga muncul gambaran debu kosmik berwarna-warni yang menunjukkan seberapa tua umur alam semesta kita.

Ahli memperkirakan Alam semesta kita yang sekarang akan berakhir dalam 2,8 hingga 22 Milyar tahun ke depan. Tapi apakah ini perhitungan akurat?

Pengukuran (paling tepat) menyatakan bahwa alam semesta kita berkembang jauh lebih cepat daripada yang diperkirakan, menimbulkan keraguan pada prediksi sebelumnya dan juga mempertanyakan teori relativitas umum Einstein.

Sama seperti alam semesta dimulai setelah Big Bang, para astronom sekarang mencoba mempelajari pengembangannya guna memprediksi bagaimana semua ini akan berakhir.

3 Mekanisme akhir alam semesta

  • The Big Rip
  • The Big Crunches
  • The Big Freeze

Sebelum kita mengetahui 3 skenario itu kita harus tahu, bagaimana alam semesta terbentuk dan berkembang hingga saat ini.


Alam Semesta Terbentuk Melalui “The Big Bang” = Dentuman Besar

Teori Big Bang adalah penjelasan utama tentang bagaimana alam semesta dimulai. Sederhananya, alam semesta yang kita kenal dimulai dengan singularitas kecil, kemudian mengembang selama 13,8 miliar tahun ke Cosmos (alam semesta kompleks) yang kita kenal sekarang.

Karena peralatan saat ini tidak memungkinkan bagi para astronom mengintip balik pada kelahiran alam semesta, yang bisa kita pahami tentang Teori Big Bang adalah dalam bentuk rumus dan model matematika. Para astronom bisa melihat “gema” perluasan alam semesta melalui sebuah fenomena yang dikenal cosmic micro-wave background. (latar belakang gelombang mikro kosmik)

Beberapa ahli memiliki teori alternatif selain Big Bang – yaitu inflasi abadi. Ungkapan “Teori Big Bang” populer di kalangan ahli astrofisika selama beberapa decade. Malah sekarang diambil menjadi salah satu nama siaran komedi di salah satu channel-TV AS.

Proses Expanding Universe = Mengembangnya Alam Semesta

Dalam waktu yang cukup lama para ilmuwan, termasuk Albert Einstein, mengira Semesta itu statis dan tak terbatas.

Ternyata yang sebenarnya terjadi semesta ini berkembang, dan pada kecepatan yang semakin cepat. Ini pasti berasal dari keadaan yang lebih compact yang kita sebut Big Bang, menyiratkan bahwa waktu memang memiliki awal.

Dan ini (kemungkinan) akan berakhir. Dengan mempelajari cahaya kuno, para astronom dapat melihat apa yang disebut “radiasi peninggalan” dari Big Bang, yang juga dikenal sebagai latar belakang gelombang mikro kosmik.

Teori relativitas Einstein, menunjukkan bahwa waktu itu relatif. Ini berarti bahwa di alam semesta (yang mengembang) galaksi, bintang dan planet berotasi, pengalaman waktu berbeda-beda dan yang dikenal sebagai “waktu” termasuk masa lampau, sekarang dan masa depan adalah relatif.

Ahli kosmologi memakai teori ini, dan studi radiasi latar belakang kosmik, menyimpulkan ternyata ‘usia kosmik’ alam semesta sekitar 13.799.000.000.000 tahun (13,7 trilyun tahun), dan ini membantu memprediksi bagaimana, dan kapan, alam semesta akan berakhir.


1. The Big Rip = Tercabik Besar-besaran

Teori mengatakan bahwa semesta akan berakhir dengan Big RipTarikan ekspansi semesta menjadi lebih kuat dari gravitasi yang dikandungnya. Diikuti oleh lubang hitam. Ini akan menghancurkan galaksi, bintang, dan bahkan planet kita sendiri.

Bumi, dan umat manusia bersamanya, perlahan-lahan bisa membusuk terkena radiasi, hancur dengan sendirinya atau tercabik-cabik saat kekuatan ekspansi alam semesta meningkat. Ini akan membuat Semesta penuh dengan partikel-partikel tunggal yang terputus.

Sampai sekitar 5 Miliar tahun yang lalu, pertumbuhan semesta lambat karena tarikan gravitasi yang lebih kuat. Baru-baru ini, ternyata ekspansi malah meningkat, dan banyak yang menghubungkannya dengan efek energi gelap (Dark energy).

Agar Big Rip terjadi, energi gelap harus menang dalam pertempurannya dengan gravitasi sedemikian rupa sehingga dapat merusak atom individu.


2. The Big Crunch = Kehancuran besar dari dalam

Teori lain tentang akhir Semesta adalah ‘Big Crunch’. Alih-alih mengembang selamanya, materi di semesta mencapai titik di mana berkurang dari waktu ke waktu, sehingga menyebabkan gravitasi menjadi kekuatan paling dominan.

Ini akan menyebabkan Semesta menyusut dan menyebabkan bintang, planet, dan seluruh galaksi bertabrakan satu sama lain. Semesta akan hancur dengan sendirinya.

Sederhananya, jika ekspansi Semesta melambat dan Big Bang terjadi secara terbalik, semuanya akan meledak ke dalam (implode).

Peneliti Denmark mengklaim telah membuktikan bahwa proses ini sudah mulai terjadi, apa yang dikenal sebagai ‘phase transition’ sudah terjadi di Alam Semesta kita; dan mulai ‘menggerogoti’ kosmos.

‘Phase Transition‘ mirip dengan proses ketika air berubah menjadi uap.

Menurut teori Higgs, transisi fase menyebabkan pergeseran struktur ruang-waktu. Selama transisi ini, ruang kosong diisi dengan zat tak terlihat yang disebut Bidang Higgs. Secara teori Bidang Higgs ternyata bisa menggelembung, para peneliti percaya ‘gelembung’ ini bisa muncul di mana saja di Semesta, dan kapan saja.

Gelembung ini kemudian dapat mengembang dengan kecepatan cahaya, memasuki semua ruang, dan mengubah medan Higgs menjadi gelembung baru.

Beberapa berpendapat energi gelap menyebabkan ‘fluktuasi kuantum’ yang dapat menyebabkan ‘Big Bang baru’ untuk mengakhiri garis waktu kita dan memulai yang semesta yang baru. Meskipun ini baru spekulasi peneliti.

Ini akan menguatkan anggapan bahwa alam semesta kita yang sekarang muncul setelah alam semesta sebelumnya hancur, artinya kita hidup di antara puing-puing alam semesta yang telah hancur sebelumnya.


3. The Big Freeze = Pembekuan Besar-Besaran

Teori lain menyatakan Semesta dapat berakhir karena Pembekuan Besar. Dan bisa sebaliknya disebut ‘Heat Death’, skenario ini diyakini paling mungkin menurut apa yang sudah kita ketahui tentang fisika dan Semesta.

Di Semesta, entropi akan meningkat hingga mencapai “nilai maksimum”.

Entropi berasal dari prinsip termodinamika yang meliputi energi khusus merujuk pada segala sesuatu di Semesta bergerak dari keteraturan ke kekacauan. Entropi adalah ukuran dari pergeseran itu.

Ketika entropi mencapai maksimum, panas dalam sistem akan didistribusikan secara merata, sehingga tidak akan ada lagi ruang untuk energi yang dapat digunakan, atau panas, yang eksis.

Alam Semesta akan membeku berujung ‘kematian (karena kehilangan) panas’. Pendek kata, gerakan mekanis di dalam Semesta akan berhenti. Itu mirip seperti jika tubuh manusia mengalami hipotermi atau kehilangan suhu ekstrim, maka organ tubuh akan mati.

Selama Pembekuan Besar ini, alam semesta menjadi begitu luas sehingga pasokan gas menyebar sangat tipis sehingga tidak ada bintang baru yang dapat terbentuk. Dalam skenario ini, waktu menjadi kosong tanpa akhir di mana tidak ada lagi energi yang tersisa di jagat raya ini.


Source

wired.co.uk/article/how-will-universe-end

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *