Thu. Oct 29th, 2020

80 Persen Oksigen Dari Laut, Tapi Konservasi Laut Diabaikan?

Gambar 1. Sejatinya kehidupan di bumi berasal dari laut, tapi mengapa laut terabaikan? (Sumber: mmmpa.eu)

Berdasarkan sejumlah hasil studi ilmiah diketahui bahwa laut adalah mesin utama penghasil oksigen di bumi, sekitar 80-90 persen oksigen bumi dihasilkan di laut oleh organisme yang bernama fito plankton, sementara pohon di bumi hanya menghasilkan kurang dari 20 persen oksigen di bumi.Plankton adalah binatang, ganggang, bakteri dan organisme mikroskopis lainnya yang tidak kasat mata. Mereka mendiami lapisan-lapisan atas samudera, laut dan perairan tawar di dunia.

Badan Antariksa Amerika Serikat (NASA) bahkan mengestimasi oksigen yang dihasilkan di laut lebih dari 90 persen total oksigen di bumi. Kemudian, dalam sebuah proyek penelitian yang melibatkan 200 ilmuwan dari 45 negara yang dilakukan selama hampir 6 tahun (2009-2015) mengungkapkan bahwa plankton berkontribusi sangat besar pada kehidupan manusia dan planet kita dengan mempertahankan kondisi bumi agar layak ditinggali.

Gambar 2. Kawasan konservasi laut di dunia (Sumber: pinterest.com)

Plankton ternyata tidak hanya menghasilkan oksigen, tapi juga membung karbon dioksida dari atmosfer dan membantu pembentukan awan untuk mengurangi pemanasan global. Keberadaan laut ternyata jauh lebih penting dari hutan yang selama ini telah menjadi fokus pelestariaHasil penelitian tersebut telah dipublikasikan dalam jurnal ilmiah science.

Indonesia adalah negara dengan luas lautan yang meliputi 2/3 wilayahnya, yaitu seluas 5.076.800 kilometer persegi dari luas daratannya 1.904.569 kilometer persegi dengan garis pantai membentang hingga 99.093 kilometer berdasarkan data Badan Informasi Geospasial Indonesia, Indonesia tentu adalah bagian dari komunitas dunia yang ikut bertanggung jawab terhadap ekosistem laut.

Dengan potensi tersebut Indonesia telah menjadi produsen komoditas kelautan terbesar kedua di dunia dengan jumlah 6 juta ton pada tahun 2016, mengungguli Amerika Serikat, Rusia dan Jepang. Capaian tersebut memang sesuai dengan potensi yang Indonesia miliki dan sejalan dengan kebijakan nasional yang selalu mengedepankan eksplorasi kekayaan laut Indonesia, meski dianggap masih belum maksimal dan justru persoalan itulah yang terus dibahas dan dianggap menjadi permasalahan. Tapi bagaimana dengan konservasi laut Indonesia?

Terkait hal tersebut, Indonesia telah memiliki target Pembentukan Kawasan Konservasi Laut (KKL) seluas 20 juta hektar atau sekitar atau sekitar 200 ribu kilometer persegi, sekitar 4 persen dari luas lautan Indonesia atau sekitar 10 persen dari luas daratan Indonesia.

Gambar 3. Kawasan konservasi laut di Indonesia (Sumber: pinterest.com)

Namun, berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS) terakhir yang telah terdata adalah, luasan konservasi perairan yaitu seluas 5,32 juta hektar, sedangkan luasan konservasi daratan adalah seluas 22,11 hektar atau 4 kali lipat dari luasan konservasi perairan. Padahal, luasan lautan Indonesia itu 3 kali lipat dari luas daratannya. Apakah konservasi laut Indonesia masih diabaikan?

Berdasarkan data tersebut, Sekretaris Direktorat Jenderal Pengelolaan Ruang Laut Agus Dermawan menilai apa yang telah dilakukan pemerintah saat ini masih jauh dari harapan, mengingat luas wilayah Indonesia saat ini saja, setidaknya Indonesia sudah harus memiliki kawasan konservasi laut lebih dari 32 juta ha.

Itu baru urusan KKL saja yang notabene lebih menyasar kawasan pesisir dengan tujuan pengelolaan berkelanjutan, sedangkan bicara konservasi laut berarti mencakup seluruh wilayah laut Indonesia yang luasnya lebih dari 5 kilometer persegi atau 500 juta hektar.

Gambar 4: Memahami pentingnya kawasan konservasi laut berarti memahami pentingnya keberlanjutan hidup di bumi. (Sumber: marinmpawatch.org)

Menurut Deputi Bidang Kebumian Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) Zainal Arifin, upaya yang telah dan akan dilakukan untuk melindungi laut Indonesia antara lain peningkatan kesadaran masyarakat terhadap lingkungan melalui pendidikan sains di sekolah, pengembangan teknologi berupa environmental monitoring and warning system, pemanfaatan limbah sebagai energi terbarukan, hingga restorasi hutan mangrove sebagai penyaring bahan pencemar dari daratan.

Oleh karena itu, Indonesia perlu melakukan pengelolaan wilayah laut yang lebih komprehensif, tidak hanya sebatas penargetan KKL semata namun juga melihat perspektif perlindungan kawasan laut dan pesisir secara lebih luas, literasi kepada masyarakat, hingga regulasi yang lebih kuat untuk melindungi kawasan laut Indonesia dari kerusakan dan eksploitasi yang mengabaikan dampak lingkungan.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *