Sun. Aug 9th, 2020

Cara Mengubah Semua Logam Menjadi Emas

Fakta atau Fiksi ?

Bayangkan jika suatu saat kamu bisa mengubah suatu benda disekitarmu menjadi emas. Tanpa mantra atau sihir, tapi dengan kemampuan tertinggi sains semuanya yang mustahil bisa menjadi nyata.

Gambar 1. Tokoh alchemist jaman kuno

Selama ratusan tahun, para ahli kimia kuno (alchemist) bekerja keras di laboratorium untuk menghasilkan zat mistis yang dikenal sebagai Philosopher’s stone. Material padat, berlilin, merah itu memungkinkan proses yang identik dengan alchemy — chrysopoeia, metamorfosis, atau transmutasi, dari logam-logam dasar seperti timah menjadi emas.

Alchemy : pelopor kimia abad pertengahan, berdasar transformasi materi.m Itu terutama berkaitan dengan upaya untuk mengubah logam menjadi emas atau untuk mencari obat mujarab universal.

Pendek kata seperti membandingkan astronomi dan astrologi, alchemist adalah ilmu kimia magis, yang muncul pertama di Moor, Spanyol.


Kiprah Alchemist Kuno

Alchemists sering dianggap sebagai penipu pseudo-sains alias dukun, tetapi dalam banyak hal mereka membuka jalan bagi perkembangan kimia modern dan obat-obatan.

Alchemist pada abad XVI dan XVII mengembangkan teknik baru, obat-obatan dan ramuan kimia lainnya. Kebanyakan mereka adalah eksperimentalis (penyuka eksperimen) yang luar biasa.

Gambar 2. Modern Alchemist

Profesor kimia modern hari ini akan lebih dari senang untuk mempekerjakan mereka sebagai teknisi laboratorium, seandainya mereka masih ada.

Para Alchemist itu di antara ilmuwan kelahiran Irlandia, Robert Boyle, sebagai salah satu pendiri kimia modern, perintis kedokteran kuno dari Swiss, Paracelsus, dan fisikawan Inggris Isaac Newton.

Namun, terlepas dari semua itu, Philosopher’s stone selamanya di luar jangkauan kita, terutama yang percaya jika sains perlu bukti secara empiris.

Masalahnya, para Alchemist belum tahu jika timah dan emas adalah unsur atom yang berbeda — meskipun tabel periodik masih ratusan tahun kemudian ditemukan.

Mereka meyakini keduanya adalah senyawa hibrida, dan karena itu percaya dengan perubahan kimia dalam reaksi laboratorium transmutasi bisa terjadi, namun kenyataannya impian mengejar chrysopoeia tidak berhasil.


Mengubah Logam Lain Menjadi Emas

Dengan tonggak sejarah atom pada abad ke-20, bagaimanapun, transmutasi (perubahan besar) unsur akhirnya menjadi mungkin.

Saat ini fisikawan nuklir secara rutin mengubah satu elemen ke elemen lainnya. Dalam reaktor nuklir, atom uranium pecah untuk menghasilkan inti yang lebih kecil dari elemen seperti xenon dan strontium serta panas yang dapat dimanfaatkan untuk menghasilkan listrik.


Bagaimana dongeng transmutasi logam lain menjadi emas?

Ini memang mungkin — yang dibutuhkan hanyalah akselerator partikel, pasokan energi yang besar, dan harapan tentang berapa banyak emas yang akan dihasilkan.

Gambar 3. Tabel Periodik
Gambar 4. Tablet periodic bismuth

Lebih dari 30 tahun yang lalu para ilmuwan nuklir di Laboratorium Nasional Lawrence Berkeley (LBNL) di California berhasil memproduksi emas (dalam jumlah kecil) dari Bismuth (Bi), unsur logam yang berdekatan dengan Emas atau Aurum (Au) pada tabel periodik.

Proses yang sama bisa dilakukan untuk timah, tetapi mengisolasi emas darinya namun reaksi ini terbukti lebih sulit, kata David J. Morrissey, dari Michigan State University, salah satu ilmuwan yang melakukan penelitian.

Gambar 5. Crystal BIsmuth

Kita bisa menggunakan timbal dalam eksperimen, tetapi lebih cocok menggunakan bismuth (Bi) karena hanya memiliki satu isotop stabil. Sifat homogen unsur ini berarti lebih mudah untuk memisahkan emas dari bismuth daripada memisahkan emas dari timah hitam (Pb) , yang memiliki empat isotop stabil.

Isotop adalah bentuk dari unsur yang intinya memiliki nomor atom yang sama,tetapi jumlah proton di inti dengan massa atom yang berbeda karena mereka memiliki jumlah neutron yang berbeda.

Gambar 5. Identitas Emas (Aurum) dalam tabel periodik

Dengan menggunakan akselerator partikel Bevalac LBNL, Morrissey dan rekan-rekannya meningkatkan sinar Carbon dan inti Neon mendekati kecepatan cahaya dan kemudian membantingnya menjadi foil bismuth.

Ketika inti partikel berkecepatan tinggi beradu dengan atom Bismut, ia memotong bagian inti bismut, menghasilkan atom yang sedikit berkurang. Dengan memilah-milah reruntuhan partikel, tim menemukan sejumlah atom yang ditransmisikan di mana empat proton telah dihapus dari atom bismuth untuk menghasilkan emas.

Bersama dengan empat proton, reaksi-reaksi yang diinduksi oleh tumbukan telah dilepas dari enam hingga 15 neutron, menghasilkan berbagai isotop emas dari emas 190 (79 proton dan 111 neutron) hingga emas 199 (79 proton, 120 neutron).

Gambar 7. Sistem Alchemist Modern

Jumlah emas yang dihasilkan sangat kecil sehingga ilmuwan harus mengidentifikasinya dengan mengukur radiasi yang dilepaskan oleh inti emas yang tidak stabil ketika mereka meluruh (decay) selama satu tahun.

Selain beberapa isotop radioaktif emas, tabrakan partikel bisa menghasilkan sejumlah emas stabil isotop 197 — barang-barang dari cincin kawin dan emas batangan — tetapi karena tidak meluruh (decay), para peneliti tidak dapat memastikan keberadaannya.

Gambar 8. Sistem atom dalam emas (Aurum)

Isotop stabil harus diamati secara massal.

Mengisolasi emas dalam jumlah tertentu akan lebih sulit menggunakan timah sebagai bahan awal, tetapi menghancurkan intinya dengan kecepatan tinggi menjadi target utama untuk menyelesaikan transmutasi ini.

Beberapa tabrakan akan diharapkan untuk menghapus tiga proton dari timbal, atau satu proton dari merkuri, untuk menghasilkan emas. Relatif mudah untuk mengubah timah, bismuth atau merkuri menjadi emas

Gambar 9. Coin emas

Masalahnya adalah tingkat produksi sangat kecil dan energi, uang, dan sebagainya yang dikeluarkan jauh lebih besar melebihi atom emas yang dihasilkan.

Pada tahun 1980, ketika percobaan transmutasi Bismuth-ke-emas dilakukan, dijalankan balok partikel melalui alat Bevalac dengan biaya sekitar 5.000 USD per jam, dan mungkin digunakan sekitar satu hari waktu balok. Itu seperti 120.000 USD, atau Rp 1,8 Milyar.

Gambar 10. Tambang Emas

Ini akan menghabiskan biaya lebih dari satu quadrillion dolar (1.000 Trilyun USD) per ons emas dengan eksperimen ini, kata seorang ahli kimia kepada Associated Press pada tahun itu. Angka itu jika kita konversi ke rupiah hitung saja, 15.000.000 Trilyun Rupiah = Rp 1.5000.000.000.000.000.000,- (Saat itu harga 1 ons emas adalah 560 USD atau sekitar Rp 8.400.000,-

Apa tidak lebih baik biaya itu untuk proyek penambangan emas?


Terlepas dari besarnya itu, teknik alchemist modern ternyata mampu mengubah logam-logam lain menjadi emas, bukan dengan sihir atau mistik tapi dengan reaksi atom yang cukup rumit. Tampaknya eksperimen diatas hanya untuk membuktikan juga impian alchemy kuno bisa diwujudkan di zaman modern ini.


Source

scientificamerican.com/article/fact-or-fiction-lead-can-be-turned-into-gold/

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *