Sun. Aug 9th, 2020

Tidak Disangka, Gunung Agung dan Gunung Batur Terhubung Walau Terpisah 17 KM

Tragedi meletusnya Gunung Agung di Bali pada tahun 1963 telah merenggut nyawa lebih dari 1.600 orang. Letusan Agung 1963 adalah salah satu letusan gunung berapi paling mematikan di abad ke-20, menjadikannya tempat yang sangat penting untuk studi ilmiah. Setelah ditemukan tanda-tanda akfitnya gunung Agung dari tidurnya selama 50 tahun, sebuah tim yang dipimpin para ilmuwan Inggris akhirnya memecahkan rahasia gunung berapi terkenal di Bali ini.

Citra satelit European Space Agency (ESA) telah membantu membuka hubungan antara gunung Agung dan tetangganya, Gunung Batur, yang ditemukan 17 km jauhnya.

Para ilmuwan sedang mempelajari bagaimana gunung berapi aktif kembali setelah tidur selama 50 tahun untuk memuntahkan abu ke atmosfer selama beberapa minggu pada 2017 silam.

Bali volcano BREAKTHROUGH- Agung and Batur CONNECTED despite being 10 MILES apart

Dr Fabien Albino, dari School of Earth Sciences, University of Bristol, dan penulis utama studi ini, menjelaskan bagaimana mereka menemukan magma pegunungan dapat bergerak secara horizontal maupun vertikal.

Dr Albino berkata: “Berkat data informasi dasar, kami menemukan magma bergerak sebelum letusan, tidak di bawah gunung berapi Agung, tetapi di antara gunung berapi.”

“Jadi sangat menarik melihat ada intrusi, ada magma bergerak yang bergerak di antara dua gunung berapi, yang merupakan lokasi aktivitas seismik.”

“Itulah sebabnya penelitian menyimpulkan ada potensi sistem magmatik yang mungkin dibagi antara dua gunung berapi.”

Studi ini memiliki implikasi mendalam bagi perkiraan erupsi.

“Kami mengukur deformasi dan kegempaan gunung berapi dan mencoba memahami lebih baik bagaimana gunung berapi bekerja,” jelas Dr Albino dari Universitas Bristol.

“Setiap gunung berapi adalah unik dan beberapa gunung berapi lebih dapat diprediksi daripada yang lain.”

“Misalnya, gunung berapi Kilauea Hawaii lebih mudah diperkirakan dan kami memiliki perkiraan kapan letusan berikutnya terjadi.”

Bali volcano Agung Batur CONNECTED magma chamber

“Sementara yang lain, seperti gunung Agung, akan meletus setiap 50 atau 100 tahun, lebih sulit diprediksi.”

“Gunung berapi yang sering meletus lebih mudah diprediksi karena Anda memiliki banyak latar belakang sejarah.”

“Dan gunung berapi yang meletus hanya secara spasmodik lebih sulit diperkirakan.”

“Tetapi dengan penelitian ini, kita mengetahui bagaimana letusan dipicu akan membuatnya lebih mudah untuk menentukan kapan letusan yang berikutnya terjadi.”

“Studi kami menambah latar belakang pengetahuan bagaimana dunia sistem magmatik ini terjadi.”

Dan gunung berapi lain dapat terhubung dengan cara yang sama, kata Dr Albino: “Gunung berapi subduksi di Agung sebenarnya memiliki kesamaan dengan gunung berapi di Jepang.”

“Jadi penelitian kami berlaku untuk keluarga gunung berapi lainnya di seluruh dunia.”

Bali volcano BREAKTHROUGH Agung Batur CONNECTED magma chamber

“Dan pasangan gunung berapi lainnya mungkin juga memiliki sistem yang terhubung dengan yang kita lihat dengan gunung Agung.”

Studi ini menggunakan citra satelit European Space Agency (ESA) untuk mengukur deformasi gunung berapi dari gambar-gambar ini.

“Kami menemukan ada pengangkatan tanah di bagian utara gunung berapi,” jelas pemimpin penulis studi tersebut.

Referensi :
Fish, T. (2019, February 23). Bali volcano BREAKTHROUGH: Agung and Batur ‘are CONNECTED?, despite being 10 MILES apart. Retrieved February 24, 2019, from www.express.co.uk/news/science/1091363/bali-volcano-agung-batur-connected-eruption-forecast-european-space-agency

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *