Tue. Nov 24th, 2020

Kontroversi Minyak Sawit Yang Dianggap Menyebabkan Kanker

Ilustrasi minya sawit (Sumber: eda-land.ru)

Belum lama ini, Badan Otoritas Keamanan Pangan Eropa (EFSA) menyatakan minyak kelapa sawit, yang selama ini umumnya digunakan sebagai minyak goreng dan bahan pangan lainnya, mengandung kontaminan yang dapat memicu kanker (karsinogenik).

EFSA menyebutan bahwa kontaminan tersebut muncul saat proses pemurnian minyak kelapa sawit yang dilakukan pada suhu di atas 200 derajat celcius untuk menghilangkan warna asli minyak kelapa sawit serta menetralisir bau dan rasa yang tidak disukai atau yang disebut proses deodorisasi.

EFSA menjelaskan, bahwa kontaminan yang potensial karsinogenik tersebut yakni senyawa ester asam lemak glycidyl (GE), 3-monochloropropanadiol (3-MCPD), dan 2-monokloropropanadiol (2-MCPD) dan ester asam lemaknya. “Ada cukup bukti bahwa glycidol bersifat genotoksik dan karsinogenik, studi pada epidomologi manusia tidak diperlukan lagi,” kata Dr. Helle Knutsen , Ketua Panel ahli kontaminan dalam rantai makanan EFSA seperti dikutip dari laman efsa.europa.eu.

Kontroversi tersebut hingga saat ini telah menimbulkan gelombang aksi boikot di Eropa dan Amerika. Buntutnya, sejumlah negara yang selama ini merupakan produsen utama minyak kelapa sawit mulai terkena imbasnya dan meradang, salah satunya Indonesia.

Namun demikian, bagaimana sebenarnya kelayakan konsumsi minyak kelapa sawit dengan telah diketahui adanya kontaminan tersebut?. Terkait hal tersebut, Dr. Yosie Andriani, ahli Biokimia Universiti Malaysia Terengganu memandang bahwa kemungkinan minyak kelapa sawit dapat memicu kanker memerlukan pengujian lebih lanjut

“Minimal dilakukan tes secara in vitro untuk memastikan suatu bahan berpotensi karsinogenik atau dapat memicu kanker, ada banyak yang mungkin bisa dilakukan,” kata Yossie.

Sementara itu, pakar pangan Indonesia yang juga merupakan Ketua Pusat Pengembangan Ilmu dan Tekonologi Pertanian dan Teknologi Pangan Asia Tenggara (SEAFAST) Prof. Dr. Nuri Andarwulan memandang bahwa kelayakan konsumsi minyak kelapa sawit untuk saat ini adalah sebuah keniscayaan, hal itu berkenaan minyak sawit sebagai salah satu dari 3 minyak goreng utama di dunia.

“Saat ini ada 3 minyak goreng yang digunakan oleh industri dan rumah tangga, yaitu minyak sawit, minyak kelapa dan shortening. Dari volume perdagangan, minyak sawit yang mendominasi dan ini keniscayaan,” kata Nuri yang juga merupakan Guru Besar Fakultas Teknologi Pertanian Institut Pertanian Bogor (Fapeta IPB).

Prof. Nuri mengatakan, minyak nabati selain minyak sawit, boleh jadi digunakan sebagai bahan tambahan olahan makanan, namun tidak sebagai minyak goreng, karena tidak tahan terhadap pemanasan.

“Minyak nabati jenis lainnya, dapat digunakan sebagai cooking oil (untuk menumis) dan salad oil karena cita rasanya yang lezat, seperti minyak zaitun,” ujarnya.

Sementara, terkait temuan EFSA bahwa minyak sawit dalam prosesnya memunculkan kontaminan yang memicu kanker, Prof. Nuri yang juga dikenal sebagai member of Indonesian Palm Oil tersebut enggan mengkonfrontir pernyataan tersebut. Menurutnya, isu panas terkait kontaminan di minyak sawit tersebut adalah benar.

“Senyawa kontaminan di minyak sawit yang potensial karsinogenik adalah MCPDE dan GE, Kedua kelompok senyawa tersebut terbentuk terutama saat proses pemurnian minyak tahap deodorisasi yang menggunakan suhu diatas 240 derajat Celcis dalam kondisi vakum atau keadaan hampa udara. Proses deo dibutuhkan untuk menghilangkan asam lemak bebas, peroksida (Yang menyebabkan ketengikan) dan warna (karotenoid). Dari hasil-hasil penelitian menunjukkan bahwa proses deo merupakan titik kritis pembentukan senyawa kontaminan tersebut,” jelasnya

Hanya saja, menurutnya, kenyataan tersebut tidak serta merta menjadikan minyak kelapa sawit tidak layak konsumsi, karena menurutnya untuk analisis risiko kontaminan suatu senyata kimia bagi tubuh setidaknya memenuhi 3 hal, sehingga dapat dinyatakan berisiko. “Jumlah minyak sawit yang dikonsumsi, kadar kontaminan pada minyak sawit dan berat badan konsumen. Ketiga hal tersebut adalah komponen nilai perkiraan konsumsi harian atau estimated daily intake (EDI). Nilai tersebut dikategorikan aman jika nilainya lebih rendah dari nilai tolerable daily intake (TDI) untuk senyawa kontaminan tertentu,” ujarnya.

TDI merupakan batasan jumlah harian bahan kimia yang telah dinilai aman bagi manusia secara jangka panjang. Artinya minyak kelapa sawit masih aman dikonsumsi asal konsumsi harian minyak kelapa sawit tidak melewati batasan konsumsi harian yang aman atau tidak dikonsumsi secara berlebihan.

“Semua komoditi pangan mengandung hazard atau zat berbahaya terhadap kesehatan konsumennya pada konsentrasi tertentu. Dalam ilmu keamanan pangan, regulasi untuk komoditi pangan yang diatur (nasional dan internasional) mengacu pada prinsip penerapan analisis risiko. Untuk kontaminan kimia di minyak sawit, saat ini Codex Alimentarius Commission (CAC) sedang bekerja untuk menyusun regulasinya terkait panduan dan standard untuk melindungi kesehatan masyarakat seluruh negara,” tandasnya.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *