Wed. Aug 12th, 2020

Bulan Tidak Kering Seperti Yang Anda Pikirkan

Lunar Impact (Foto: davidreneke.com)

Apa yang diyakini selama ini, permukaan bulan hampir tidak memiliki atmosfer dan suhu di permukaan bulan bisa mencapai 123 derajat Celcius saat siang hari, cukup panas untuk membuat permukaan bulan mendidih. Selama beberapa dekade ilmuwan meyakini permukaan bulan benar-benar kering. Hal itu pula yang kemudian disampaikan ke publik bahwa permukaan bulan sangat kering dan ini menjadi pengetahuan yang masih paling banyak dipahami hingga saat ini.

Sama halnya seperti teori lama yang menyebutkan bahwa kegemukan disebutkan oleh makanan berlemak meski sebenarnya makanan dengan gula dan karbohidrat lah yang menyebabkan kegemukan, tapi teori tersebut sudah diajarkan sejak lama dan masih diyakini banyak orang saat ini.

Seorang komunikator sains Derek Muller dalam video pendeknya menjelaskan bagaimana pemahaman terbaru mengenai permukaan bulan. Penjelasan tersebut merupakan hasil penelitian bertahuan-tahun yang kemudian dipublikasikan baru-baru ini seperti dilansir laman sciencealert.com.

Sebuah roket dengan sengaja ditabrakan ke permukaan bulan, membuat kawah sedalam 25 meter dan meledakan 10.000 ton material ke luar angkasa. Peristiwa ledakan dahsyat ini bukan di dalam film, tapi benar-benar terjadi dilakulan oleh kelompok peneliti ruang angkasa.

Penelitian tersebut dilakukan pada tahun 2009 lalu, tapi hasil apa yang didapat dengan peristiwa itu baru diungkap kemudian. Penelitian tersebut mengungkapkan fakta bahwa ada air di permukaan bulan, teori baru yang selama ini sering menjadi perdebatan.

Namun peristiwa dengan sengaja meledakan roket di permukaan bulan tersebut menimbulkan teori baru, peneliti bisa membuktikan bahwa 5,6 persen massa yang dikeluarkan saat ledakan itu adalah air.

Penjelasannya dilihat dari lokasi roket itu jatuh, adalah kawasan permukaan bulan yang berupa kawah teduh yang berada di sekitar kutub bulan. Suhunya mencapai -249 derajat. Artinya, air disana cukup dingin untuk mengalir sehingga hanya berbentuk es.

Setidaknya, ada 3 sumber yang mungkin dari mana air di sana berasal, yakni komet yang berisi air dan asteroid yang bertubrukan dengan bulan, kemudian oksigen yang membentuk permukaan bulan yang kemudian terikat dengan mineral oksida dan hidrogen bebas oleh angin matahari sehingga membentuk reaksi oksigen dan hidrogen. Kemudian, kemungkinan lain datang dari inti bulan. Penemuan tersebut yang dipublikasikan baru-baru ini diyakini akan berdampak besar bagi ilmu pengetahuan.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *