Tue. Aug 11th, 2020

Dari Batu Hingga Papirus, Senjakala Kematian Media Tulis Era Industri

Media Tulis Batu (Foto: timetoast.com)

Pada awal peradaban manusia, bentuk komunikasi hanya dari mulut ke mulut dan seiring perkembangan zaman, pola komunikasi kemudian berubah, manusia mulai menggunakan media untuk menulis. Sejarah mencatat, media tertua untuk menulis adalah batu. Para arkeolog meyakini teks-teks cuneiform dari Mesopotamia kuno (kini Irak) adalah tulisan tertua.

Seiring perkembangan zaman, manusia mulai beralih menggunakan media tulis lain seperti Papirus dan kulit hewan atau tumbuhan yang di masanya dianggap lebih efisien dibandingkan batu.

Namun, penggunaan media tulis yang terus meningkat akhirnya membuat media tulis buatan menjadi mahal dan manusia mulai mencari alternatif lain untuk membuat media tulis dapat diproduksi masal dengan biaya yang lebih murah.Pada tahun 105 SM, Tsai Lun di China berhasil membuat kertas “modern” untuk pertama kalinya yang terbuat dari bambu yang mudah didapat di seantero China. Penemuan itu kemudian menandai era kertas sebagai media tulis yang kemudian mengubah pola komunikasi publik di tahun-tahun setelahnya.

Daun Papirus (Foto: nytimes.com)

Menurut Everett M. Rogers (1986) terdapat empat era komunikasi dalam sejarah peradaban manusia, yaitu era tulisan, era cetak, era telekomunikasi dan era interaktif. Dan seperti halnya media komunikasi, bentuk komunikasi berkembang bersama dengan evolusi media komunikasi.

Menurut Hafied Cangara, para pakar komunikasi berbeda pendapat menetapkan bentuk-bentuk komunikasi, tapi secara garis besar bentuk komunikasi dibagi dalam 3 jenis, yaitu komunikasi pribadi, komunikasi kelompok dan komunikasi massa. Salah satu bentuk bentuk komunikasi massa adalah komunikasi jurnalistik atau yang lebih populer dikenal dengan sebutan komunikasi media, yaitu komunikasi yang ditujukan untuk khalayak ramai dengan menggunakan kaidah jurnalistik.

Secara etimologi, jurnalistik berasal dari dua suku kata, yaitu jurnal yang berarti catatan harian dan istik yang berarti keindahan atau seni. Jurnalistik dapat diartikan secara etimologis sebagai karya seni dalam hal membuat catatan tentang peristiwa sehari-hari dengan nilai keindahan yang dapat menarik perhatian khalayak.

Bambu Tulis Cina Kuno (Foto: Pinterest.co.uk)

Dari uraian tersebut, dapat dipahami bahwa media dan produk jurnalistik itu adalah dua hal yang berbeda. Ketika karya jurnalistik dipublikasikan menggunakan media dan disampaikan kepada khalayak, inilah yang kemudian disebut dengan media massa.

Bahwa media massa itu hanya alat, hanya penerbit dari karya-karya jurnalistik, maka perlu diperhatikan bahwa media bisa saja mati sesuai perkembangan zaman seperti media batu yang digunakan zaman dahulu. Ketika ditemukan media baru yang lebih efektif dan efisien, maka kematian bentuk media lama adalah keniscayaan.

Sejarah mencatat, evolusi media massa seperti yang kita kenal dan telah bertahan lebih dari 2 abad di Indonesia sejak zaman Belanda yaitu menggunakan media cetak, adalah semenjak ditemukannya mesin cetak oleh Johannes Gutenberg sekitar tahun 1436, lebih dari 5 abad yang lalu. Lantas, apakah munculnya media baru setelah era media cetak, yaitu media digital akan mematikan media massa?

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *