Tue. Nov 17th, 2020

Perangkap Nyamuk Menggunakan Bau dan Panas Badan Manusia

Nyamuk (Foto: Suara.com)

Kelompok peneliti di University of Greenwich, Inggris, baru-baru ini mengembangkan perangkap nyamuk yang dianggap sebuah terobosan saat ini. Perangkap tersebut memanfaatkan bau dan panas badan manusia.

Dilansir dari Scidev.net, kelompok peneliti yang dipimpin oleh Gabriella Gibson itu, mengembangkan jebakan nyamuk menggunakan bau badan manusia dikombinasikan dengan air hangat dan silinder gelap khusus yang diberi nama jebakan umpan manusia.

“Ini adalah terobosan besar,” kata Gibson.

Menurut Gibson, menggunakan bau badan manusia sebagai perangkap nyamuk bukanlah hal yang baru. Perbedaannya, alat yang dikembangkan kelompok peneliti yang ia pimpin adalah perangkap yang dikembangkan memiliki bentuk dah suhu yang tepat untuk memikat nyamuk untuk mendekat dan kemudian terjerat.

“Mereka datang karena bau manusia, tapi kemudian sulit untuk menjerat mereka,” kata Gibson di sela konferensi International Society for Neglected Tropical Diseases conference di London, Inggris, beberapa waktu yang lalu.

Oleh karena itu, katanya, mereka menyadari bahwa perbedaan antara benda mati dan manusia adalah suhunya.

“Jadi kami pikir, mari kita menaruh air hangat di benda hitam ini -Silinder yang digunakan-, dan melihat apakah hal itu berhasil,” lanjutnya menjelaskan.

Teknologi tersebut dikembangkan dengan hibah dari UK Medical Research Council (MRC) sebagai cara untuk menggantikan cara manusia menangani nyamuk dalam upaya menanggulangi penyakit menular.

Saat ini, prototipe alat tersebut sedang dikembangkan oleh perusahaan Biogent dan sedang diuji di benin, Burkina Faso dan Kamerun.

“Setiap desa bisa memilikinya, satu dari tiga rumah dan jika bahan pembuatannya terdapat di daerah tersebut, maka komunitas lokalpun bisa membuatnya,” katanya.

Untuk diketahu, upaya memerangi penyakit menular yang disebabkan oleh nyamuk selalu menjadi masalah utama saat ini. Hampir separuh penduduk dunia berisiko terkena malaria yang terbawa nyamuk, dan pada tahun 2015 ada lebih dari 200 juta orang yang terinfeksi dan setengah juta kematian akibat penyakit ini. Menurut WHO (World Health Organization) atau Badan Kesehatan Dunia, lebih dari 90 persen kasus terjadi di Afrika.

Meskipun ada penanggulangan terkait hal itu, namun mengendalikan nyamuk yang membawa malaria adalah salah satu cara paling efektif untuk mengurangi kasus.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *