Fri. Oct 30th, 2020

Gelombang Einstein, Pemenang Nobel Fisika 2017

Ilustrasi Gelombang Einstein (Foto: cifar.ca)

Pada tahun 2017, tiga fisikawan Amerika dianugerahi Nobel Fisika atas pengamatannya mengenai gelombang gravitasi seperti yang sudah diramalkan oleh Albert Einstein seabad yang lalu. Penerima Nobel Fisika 2017 yakni, Rainer Weiss, Barry C Barish, dan Kip S Thorne dan berhak mendapatkan hadiah sebesar 9 juta krona -Mata Uang Swedia- atau sekitar Rp 14 miliar, seperti dilansir dari vox.com.

Ketiga ilmuwan tersebut berjasa dalam penelitian Laser Interferometer Gravitational-Wave Observatory (LIGO) yang dapat menjadi pengamatan pertama terhadap gelombang gravitasi yang dilakukan dengan pertama kali.

Dalam penelitiannya, para penerima Nobel Fisika 2017 mengamati gelombang gravitasi yang dihasilkan oleh dua lubang hitam (black hole) yang masing-masing berukuran 36 kali dan 29 kali massa matahari.

Dari waktu ke waktu, kedua lubang hitam ini ternyata saling mendekat, dengan kecepatan putar terhadap satu sama lain terus berubah pula. Setelah sekian waktu, kedua lubang hitam ini akhirnya menyatu, menghasilkan lubang hitam baru berukuran 62 kali massa matahari.

Penyatuan dua lubang hitam itu berdasarkan hitungan fisika seharusnya menghasilkan ukuran lubang hitam baru sebesar 65 massa matahari. Selisih 3 kali massa matahari tersebut merupakan besaran energi gelombang gravitasi dari pergerakan relatif kedua lubang hitam yang kemudian menyatu itu.

Gelombang gravitasi dalam teori tersebut digambarkan sebagai kerutan-kerutan yang muncul karena keberadaan benda yang melintasi kain empat dimensi itu. Andai kerutan ini dikonversi jadi suara, wujudnya kurang lebih serupa bunyi kresek-kresek alias noise yang biasa muncul saat pencarian gelombang radio.

Pemicu gelombang gravitasi ini adalah sembarang obyek di alam semesta yang mengalami perubahan kecepatan atau arah. Besar gelombang yang dihasilkan dari perubahan itu bervariasi, tergantung dari ukuran obyek pemicunya.

Karena Bumi juga bergerak mengelilingi matahari dengan kecepatan dan arah yang bervariasi sekalipun konstan, Bumi pun menghasilkan gelombang gravitasi ini.

Keberadaan gelombang gravitasi yang terjadi ketika obyek dengan bobot massa tertentu bergerak dengan variasi kecepatan dan arah tertentu akan membuat “jarak” di antara obyek itu dan benda lain di semesta pun menjadi relatif—bisa mengerut dan melar.

Pengamatan tersebut akhirnya mengkonfirmasi prediksi einsten bahwa saat terjadi bencana, struktur ruang dan waktu itu sendiri dapat diregangkan dan dikerutkan, menyebabkan gelombangnya melintasi alam semesta seperti riak di kolam.

Profesor Olga Botner, anggota komite Nobel untuk fisika, menyebut temuan ini sebagai “penemuan yang mengguncang dunia”.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *