Mon. Aug 10th, 2020

Kecanduan Gawai Bikin Ketidakseimbangan Kimia di Otak

Kecanduan Gadget (Foto: voa-islam.com)

Apakah anda kecanduan gadget atau gawai? atau keranjingan internet? penelitian terbaru mengungkapkan terjadi ketidakseimbangan dalam kimia otak mereka yang kecanduan gadget.

Penelitian tersebut telah dipresentasikan pada 30 November 2017 di pertemuan tahuan masyarakat Radiologi Amerika utara (RSNA), seperti dilansir laman eurekalert.com.

Kekhawatiran saat ini, kaum muda memiliki ketergantungan tinggi terhadap gadget dan internet. Kaum muda menghabiskan terlalu banyak waktu untuk menatap ponsel mereka dibandingkan berinteraksi dengan orang lain.Waktu yang dihabiskan diantaranya untuk berita, permainan, media sosial atau menelpon.

Hyung Suk Seo, M.D, Profesor neuroradiologi di Universitas Korea di Seoul, Korea Selatan, dan rekannya menggunakan Spektroskopi Resonansi Magnetik (MRS) untuk mengidentifikasi otak remaja pintar dan remaja yang kecanduan internet.

Penelitian tersebut melibatkan 19 pemuda dengan usia rata-rata 15,5 tahun dengan 9 orang laki-laki. Mereka didiagnosis kecanduan internet. Kemudian 19 orang lagi yang tidak kecanduan gadget dan internet menjadi kontrol. Kemudian mereka diminta untuk menjawab pertanyaan yang telah disiapkan, kemudian berkaitan dengan rutinitas sehari-harinya, kehidupan sosial, produktivitas, pola tidur dan perasaan.

Hasilnya, peneliti melaporkan bahwa mereka yang memiliki kecanduan gadget dan internet, memiliki skor depresi, kegelisahan, insomnia dan impulsivitas yang jauh lebih tinggi dan signifikan.

Peneliti kemudian mengukur kadar kimia beberapa senyawa di otak yang kemudian menunjukan bahwa mereka yang kencanduan gadget dan internet, memiliki lebih banyak asam gamma aminobutyric atau gaba. Memiliki GABA yang berlebih menyebabkan sejumlah efek samping, termasuk mengantuk dan cemas.

Diperlukan penelitian lebih lanjut untuk memahami implikasi klinis temuan ini, namun Dr. Seo percaya bahwa peningkatan GABA pada gyrus anterior cingulate di internet dan kecanduan smartphone mungkin terkait dengan hilangnya fungsional integrasi dan regulasi pemrosesan saraf kognitif dan emosional. jaringan.

Kabar baiknya adalah rasio GABA yang tinggi pada remaja kecanduan secara signifikan menurun atau dinormalisasi setelah terapi perilaku kognitif.

“Tingkat GABA yang meningkat dan keseimbangan yang terganggu antara GABA dan glutamat di korteks cingulate anterior dapat berkontribusi pada pemahaman kita tentang patofisiologi dan pengobatan untuk kecanduan,” kata Dr. Seo.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *