Sun. Sep 20th, 2020

Penelitian Membuktikan Ideologi Bukan Faktor Seseorang Menjadi Teroris

Ilustrasi (Foto: garymvasey.com)

Lebih dari satu dekade terakhir, di negara barat terbentuk bahwa ideologi adalah yang menjadi faktor utama seseorang terutama anak muda bergabung dengan kelompok teroris, padahal tidak ada bukti ilmiahnya selama ini.

Parahnya lagi, stigma tersebut di Indonesia mulai terbentuk, bahkan dalam banyak kesempatan Kepala Kepolisian Republik Indonesia berulang kali mempropagandakan bahwa ideologilah yang menjadi faktor utama seseorang bergabung menjadi teroris. Akibatnya, citra tersebut mulai tumbuh subur di masyarakat Indonesia yang mulai bergerak ke arah sekularisme.

Namun ternyata kampanye anti ideologi tertentu tersebut tidak berdasar. penelitian terbaru justru membuktikan bahwa hal tersebut tidak benar, penelitian ini menantang kebijakan konvensional bahwa ekstremisme keras atau ideologi bertanggung jawab terhadap munculnya terorisme.

Penelitian dilakukan oleh United Nation University (UNU) bekerja samsa dengan UNICEF, Department of Peacekeeping Operations (DPKO), pemerintah Luxemburg dan Swiss, seperti dilansir laman eurekalert.com.

Penelitian tersebut menemukan fakta lain yang menjadi motivasi seseorang ikut dalam kelompok teror dan kontra terhadap stigma yang diyakini masyarakat barat dewasa ini.

Dr. Siobhan O’neil editor utama pada penelitian tersebut mengatakan penelitian tersebut mengambil contoh kasus yang terjadi dari daerah konflik di Suriah, Irak, Mali dan Nigeria. Daerah di mana ideologi disebut selama ini memainkan peran penting dalam perekrutan anggota kelompok terorisnya.

Peneliti menemukan, bahwa meski ideologi tetap menjadi salah satu faktor, tapi bukan faktor dominan dan malah terkait dengan faktor lainnya yang lebih berpengaruh.

Faktor tersebut adalah keamanan fisik, keamanan pangan, jaringan keluarga, identitas, teman sebaya, finansial dan daya tarik kelompok bersenjata yang menyediakan komunitas dan identitas. Faktor lain tersebut justru yang menjadi lebih dominan.

Menurut peneliti, masyarakat internasional hingga saat ini masih memelihara keyakinan dan pemahaman terkait terorisme dan kaitannya dengan perilaku anak-anak muda yang sangat ketinggalan zaman dan tidak realistis tentang bagaimana kelompok bersenjata mempertahankan anggotanya.

Lebih lanjut, penemuan tersebut menurutnya juga menjadi implikasi signifikan bagaimana untuk membuat mereka meninggalkan kelompok teroris dan bersenjata dan prospek mereka untuk reintegrasi dengan masyarakat.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *