Wed. Nov 18th, 2020

Mengapa Babi Tidak Seharusnya Dimakan?

Babi (Foto: nytimes.com)

Ini adalah fakta yang sebenarnya diketahui banyak orang, bahwa dalam teks 3 agama besar di dunia, agama samawi yang dianut hampir separuh penduduk dunia melarang makan daging babi.

Daging babi disebut najis, tidak halal dan bahkan dalam salah satu kitab agama disebut berulang-ulang di banyak teks kita sucinya yang bahkan disentuh pun tidak boleh.

Meski dalam teks 3 agama samawi tersebut tidak disebutkan alasannya, namun diyakini babi adalah hewan yang penuh dengan penyakit. Benarkah demikian?

Ternyata jawabannya benar dan dunia sains telah membuktikannya. Apa akibat makan daging babi dan mengapa daging hewan ini tidak seharusnya dimakan manusia.

Meskipun sains dan agama jarang memiliki perspektif yang sama, namun ada banyak alasan ilmiah yang berlaku untuk kecaman religius terhadap daging babi ini. Babi benar-benar kotor, binatang najis yang makan hampir semua hal, termasuk makanan busuk, air kencing, kotoran, bangkai yang penuh dengan belatung dan bahkan pertumbuhan kanker.

Tapi permasalahan utamanya bukan di situ, sebenarnya sekotor apapun hewan itu, tidak akan jadi masalah bagi manusia jika hewan tersebut memiliki sistem pencernaan yang dapat secara efektif mengeluarkan racun dari tubuh mereka. Masalahnya, babi tidak memiliki sistem pencernaan yang seperti itu.

Pada sapi, domba dan kambing, untuk dapat mencerna makanan vegetarian mereka, maka ketiga hewan itu butuh 24 jam untuk mencernanya. Namun hal itu tidak terjadi dengan babi, babi hanya mencerna makanannya dalam 4 jam saja. Seperti dilansir laman naturalnews.com.

Itu tidak cukup lama untuk membuang racun berlebih, jadi toksin tersebut tersimpan di dalam sel lemak dan organ babi itu sendiri.

Lebih parahnya lagi, ternyata babi tidak memiliki kelenjar keringat yang merupakan fungsi penting bagi hewan dan juga manusia untuk mengeluarkan racun yang ada di dalam tubuh. Artinya, babi menyimpan semua racun dan kotoran di dalam tubuhnya dan ini terus berkembang di tubuhnya hingga kemudian dipotong dan dijadikan santapan.

Virus, parasit dan organisme destruktif pada babi sebagian besar ternyata dapat ditularkan pada manusia. Babi berjalan setiap harinya dengan membawa semua itu.

Beberapa organisme yang dapat ditularkan babi ke manusia, diantaranya:

Taenia solium: Parasit usus yang bisa menyebabkan sistiserkosis (infeksi jaringan) dan hilangnya nafsu makan.

Virus Menangle: Virus yang tidak menyenangkan yang dapat menyebabkan demam, ruam, kedinginan, berkeringat dan sakit kepala selama 10 sampai 14 hari.

Hepatitis E: Radang hati virus yang bisa memicu penyakit kuning, kelelahan dan mual. Kasus kronis dapat menyebabkan fibrosis hati dan sirosis.

Trichinella: Cacing gelang parasit yang bisa menyebabkan demam, malaise, edema dan mialgia.

Yersinia enterocolitica: Bakteri volatil yang menurut sebuah penyelidikan oleh Consumer Reports, terdapat pada 69 persen dari seluruh sampel daging babi mentah yang diuji. Hal ini dapat menyebabkan gangguan pencernaan, demam dan, pada kasus yang paling ekstrem, infeksi fatal.

Kondisi itu ditambah lagi, ternyata tidak seperti kebanyakan daging lainnya, tidak ada suhu yang cukup aman bagi daging babi untuk menjamin semua organisme dan telur-telur parasit dan cacing dalam tubuh babi dapat dibunuh.

Bahkan, pembekuan daging babi tidak menjamin semua organisme, terutama spesies cacing tertentu akan mati dan tidak menginfeksi manusia. Bagaimana, masih mau makan daging babi?

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *