Kam. Jan 21st, 2021

Penelitian SD Inpres di Indonesia Yang Diganjar Nobel

SD Inpres Yeretuar Nabire (Sumber: nabire.net)

Komite Hadiah Nobel menganugerahi 3 orang ekonom dunia yaitu Abhijit Banerjee, Esther Duflo, dan Michael Kremer hadiah nobel ekonomi pada tahun 2019 karena menginisiasi sebuah pendekatan untuk mengurangi tingkat kemiskinan global. Menariknya, ternyata salah satu penelitian ekonom tersebut, yaitu mengenai SD Inpres (Instruksi Presiden) di Indonesia.

SD Inpres adalah kebijakan yang dibuat pada era orde baru, saat kepemimpinan Presiden Soeharto pada tahun 1973 hingga 1978. Adalah Duflo yang melakukan penelitian tersebut yang membuatnya menjadi peraih nobel ekonomi termuda sekaligus perempuan kedua yang mendapatkannya. Duflo adalah seorang profesor di Massachusetts Institue of Technologi, seperti dilansir dari kompas.com.

Hasil penelitiannya tersebut telah diterbitkan pada tahun 2000 dengan judul Schooling and Labor Market Consequences of School Construction in Indonesia: Evidence from an Unusual Policy Experiment (Konsekuensi Sekolah dan Pasar Tenaga Kerja dari Pembangunan Sekolah di Indonesia: Bukti dari Eksperimen Kebijakan yang Tidak Biasa).

Dijelaskan, dari penelitian tersebut Duflo menganalisa dampak dari program pemerintah Indonesia itu terhadap pendidikan dan tingkat upah penduduk Indonesia saat itu. Ketika itu, pemerintah tengah membangun lebih dari 61.000 Sekolah Dasar (SD).

SD Inpres diketahui merupakan upaya meningkatkan kualitas pendidikan dasar di rezim orde baru untuk memperluas kesempatan belajar terutama di daerah pedesaan, jika pun ada SD inpres di daerah perkotaan, biasanya merupakan wilaya yang warganya berpenghasilan rendah, sementara di wilayah yang lebih maju, pemerintah membuat SD negeri.

Duflo menggunakan variasi sekolah hasil dari SD Inpres tersebut sebagai variabel instrumental. Hasilnya, ternyata pembangunan SD Inpres menyebabkan peningkatan pendidikan dan pendapatan. Anak-anak usia 2 hingga 6 tahun di tahun 1974 menerima 0,12 hingga 0,19 tahun lebih banyak pendidikan, untuk setiap sekolah yang dibangun per 1.000 anak di wilayah kelahiran mereka.

Kesimpulannya, kebijakan tersebut sukses meningkatkan ekonomi dan bahkan pengembalian ekonomi sekitar 6,8 persen hingga 10,6 persen. SD Inpres memberikan dampak positif bagi peningkatan kualitas pendidikan anak di berbagai daerah di Indonesia. Sayangnya, saat ini SD Inpres di Indonesia tidak lagi mendapatkan perhatian, kekurangan fasilitas dan bahkan ketidaktersediaan guru.

Untuk diketahui, SD Inpres terbentuk berdasarkan keluarnya instruksi presiden Nomor 10 tahun 1973 tentang Program Bantuan Pembangunan Gedung SD atas gagasan ekonom Widjodjo Nitisastro yang meski menggagas kebijakan tersebut namun tidak mendapatkan nobel. Bagaimana pendapat kalian?

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *